Friday, September 30, 2016

Sumber: tribunnews.com
Saya jadi teringat waktu SD dulu. Pertanyaan itu selalu terlontar untuk murid baru. Yang masih ileran. Sebagian dengan optimis menjawab, "Saya ingin jadi dokter." sebagian lain menjawab, "Saya polisi, saya pilot, saya guru." Dan berbagai jawaban lainya.

Dan saya sendiri ternyata lupa, apa cita-cita saya dulu. Tapi ketika masuk SMP, saat MOS (Masa Orientasi Sswa), saya tulis besar-besar pada kertas yang terkalungkan di leher "CIta-cita: Guru Agama".

Namun sayangnya, tidak ada satupun di antara mereka yang bercita-cita menjadi pengusaha. Entah karena mereka memandang cita-cita itu kurang bergengsi, ataukah belum terlalu familiar di kepala mereka.

Padahal sejak kelas 5 SD, saya sudah mewanti-wanti diri saya agar kelak saya bekerja bukan karena ijazah, tapi karena ilmu. Dan saya masih ingat betul, ucapan itu terlontar saat saya sedang mandi di pinggir sungai bersama orang kampung.

Lantas apa-cita-cita sekarang?

Kenapa kita bergelut dengan dunia bisnis? Apakah hanya ingin sekedar untuk menyambung hidup, ataukah ingin menjadi seperti Utsman yang menginfakkan 1/3 dari hartanya untuk Islam dengan nilai triliuanan?

Ataukah seperti Umar yang menginfakkan 1/2 hartanya untuk Islam? Atau juga seperti Abu Bakar yang seluruh hartanya diinfakkan untuk fie sabilillah. Kemudian saat ditanya oleh Rasulullah apa yang ditinggalkan untuk keluarganya lantas beliau menjawab, "Saya tinggalkan Allah dan Rasulnya."

Luar biasa!!

Atau Juga seperti Abdurahaman bin Auf, yang jika mencarinya kemungkinan ia sedang dalam satu keadaan, bersama keluarganya, menghitung perniagannya atau sedang berjihad di jalan-Nya.

Luar biasa!!

Lantas di posisi mana kita dalam perjuangan? Semoga bisa menjadi renungan.

"Dan berinfaq bukan untuk menjadi kaya, tapi berusaha menjadi kaya agar bisa berinfaq." Seperti mereka.

Coretan Dzaky . 2017 Copyright. All rights reserved. | Designed by Blogger Template