Sumber: kapanterakhirbacaquran.blogspot.com
Kerap kasli...

Manusia menghitung rezeki yang Allah berikan dengan matematika dunia. Menghitung bertambah dan berkurang rezeki berdasarkan jari-jarinya.

Padahal, matematika Allah tentulah berbeda. Yang menstandarkan bertambah dan berkurangnya rezeki bukan berdasarkan jari dan angka-angka, tapi berdasarkan ketakwaan dan ketaatan kepada-Nya.

Cobalah lihat, betapa banyak yang takut untuk menikah lantaran khawatir tak bisa menafkahi anak dan istrinya.

Padahal Allah sudah berjanji, "Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui." (An-Nuur: 32)

Yang sudah menikah pun masih saja ketakutan untuk menambah anaknya. Ia khawatir jika beban keluarga akan bertambah, dengan bertambahnya anak. Karena ia bandingkan dengan pendapatan yang hanya segitu-segitu saja. 

Ia lupa, jika ternyata setiap anak yang lahir telah ditetapkan rizkinya. Ia membawa jatah sendiri. Dan tak akan mengurangi jatah yang telah ada.

Ia juga lupa, dengan janji Allah, "... Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (At-Talaq: 3-4)

Yang sudah mendapat kelapangan rezeki pun kerap enggan menginfakkan hartanya di jalan Allah. Ia kerap menghitung dengan ilmu akuntansi yang dipelajarinya. Ia merasa jika hartanya yang diinfakkan di jalan Allah akan semakin berkurang.

Padahal Allah sudah menganalogikan, "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (Al-Baqarah: 761)
Dan bahkan Allah juga sudah berjanji, "Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan." (Al-Baqarah: 245)

Yang lebih parah lagi, tatkala ia sudah merasa berkecukupan. Dan mencapai tangga kejayaan. Dengan lancarnya bisnis yang dijalankan. Ia merasa pongah.

Ia menghitung dengan jarinya, bahwa semakin besar modal yang dimiliki, maka bisnisnya akan semakin melejit. 

Transaksi riba pun ia sambangi. Demi mendapatkan modal yang diangani. Ia yakin jikapun hanya menyetor bunganya setiap bulan, ia mampu. Karena income dari bisnisnya melebihi nominal bunga yang harus disterornya. Terlebib jika modal semakin bertambah.

Ia tak lagi mendengar suara hatinya, bahwa riba hanya akan membuatnya sengsara. Berharap untung padahal bisa menjadikan buntung. Ilusi semata. Seperti fatamorgana.

Bagaimana mungkin Allah akan memberinya kejayaan sementara Allah dan Rasulnya memerangi para pelaku ribawi.

Masih ingatkah ancaman-Nya, "Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya." (Al-Baqarah: 279)

Maka, janganlah sekali-kali menghitung rezeki Allah dengan matematika dunia dan jari kita. Karena Allah, memiliki konsep matematika sendiri untuk hambanya.

Baik untuk mereka yang bertaqwa, ataupun yang durhaka.

Tugas kita hanyalah berikhtiar dan bertawakal. Menjemputnya dengan cara yang diridhai oleh Sang Pemberi Rezeki.

Semoga kita terlindungi dari rezeki yang tidak diberkahi. Aamiin.