Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Ikhlas
Saya masih teringat dengan sebuah buku yang berjudul "Malas Tapi Sukses". Yang ditulis oleh Freed Galthon. Sekilas mungkin kontroversi. Masa' orang malas bisa sukses. Saya saja yang selalu kerja keras malah gak sukses-sukses.
Pada dasarnya, ia hanya mau menyampekan secara singkat bahwa, orang malas itu dalam satu hal. Tapi gak malas dalam lain hal.
Ya...sebut saja si Ahmad. Dia kalau disuruh rapiin kamarnya males banget. Tapi giliran main COC gak selesai-selesai. Tetap saja betah.
Ato si Ayu yang males sekali masak, tapi kalo disuruh nyetrika segunung pun gak bakal ngeluh. Apalagi sambil nonton Film Korea.
Oke... sebenarnya bukan masalah itu yang mau saya bahas. Tapi sebuah stainmen buku tersebut, "Jika kerja keras itu bikin sukses, maka tukang batu adalah orang paling aukses di dunia".
Coba bayangkan, mana pekerjaan yang lebih keras dari mecahin batu?? Berani coba??
Kalau mau sukses kita harus kerja cerdas, katanya. Bukan kerja keras. Contohnya ketika mau mindahin lemari besi, gak perlulah capek-capek diangkat. Cukup angkat sedikit almarinya lalu selipkan beberapa besi di bawahnya, lantas tinggal dorong. Itulah keja cerdas.
Berbeda dengan konsepnya pak Fatahilah Suparman, direktur Majalah Ar Risalah. Kata beliau, kerja keras atau kerja cerdas saja tak cukup. Tapi keduanya harus digabungkan. Dan jangan lupa tambah satu lagi, yakni kerja ikhlas. Agar setiap tetes keringat kita bernilai ibadah.
Jadi tiga muatan itu harus disatukan. Karena memiliki pelaku yang berbeda. Kerja keras dengan otot, kerja cerdas dengan otak dan kerja ikhlas dengan hati.
Karena kemampuan otot itu terbatas. Terlalu banyak peras otak bisa gak waras. Kalau hati tak mau terlibat jadi gak ikhlas.
Konsep brilian tak mungkin tercapai tanpa tindakan. Dan kesuksesan dunia tak akan ada nilainya tanpa keberkahan. Maka kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas harus disatukan.
Dan jangan lupa, sempurnakan lagi dengan kerja tuntas. Jangan cuma semangat mengawali tapi tak mau mengahiri. Seperti si Sanguinis, kata pak Yahya Ahmadi pada waktu ngisi TDI. Atau Training Da'i Indonesia yang ke #23.
Selamat bekerja.