Kata Orang Kampungku: Disimpekna
Jadi teringat masih kecil dulu. Saat orang tuaku hendak pergi ke sawah, atau ke pasar. Tugasku saat itu, mengajak adikku main agak jauh dari rumah. Disimpekna, orang kampungku menyebutnya. Agar ketika ia pergi, adikku tidak tahu. Sehingga tidak menangis.
Dan kejadian itu ternyata menimpaku pagi tadi. Saat aku membangunkan si mbarepku, sambil berpamitan padanya.
Tak seperti biasanya, yang tak mempermasalahkan akan kepergianku. Tapi kali ini, ia menangis. Menggeleng. Melarangku pergi. Ia tidak mengizinkan.
Katanya ia mau sama abi saja. Gak mau sama bunda. Pelukannya semakin erat. Hingga tak bisa melepasnya. Kugendong beberapa saat. Kuajak ngobrol. Agar suasana cair. Tapi ia tetap kekeh. Tidak mengizinkanku.
Bukan diam yang membalut, dan izin yang memyambut. Tapi malah bertambah kalut. Air matanya menganak sungai. Ia sesenggukan.
Harus disimpekna, pikirku. Tapi kemana. Gak mungkin sang bunda menggendongnya. Memnggondol si janin saja sudah kelelahan.
Kupaksa melepaskan. Karena matahari terus menanjak. Tak mungkin mengiyakannya. Tangisnya semakin keras. Sambil memeluk bantal.
Selama aku siap-siap. Ia tak henti menangis. Tidak mengizinkanku. Tapi biarlah.
Usai persiapan, kucoba memeluknya lagi. Mengajaknya berbicara. Alhamdulillah sudah mulai cair. Ia tak lagi menangis. Rasa kalutnya sudah terlampiaskan.
Tapi masih belum sempurna. Jika jurus pamungkas belum keluar. Beli jajan. Ya. Akhirnya kuajak ke warung. Untuk membeli jajan.
Tapi ia tak seperti anak-anak kebanyakan. Yang kerap memaksa. Ia hanya membeli sesuai kebutuhan. Kutawarkan berbagai jajan. Ia menggeleng. "Sudah. Ini saja." Katanya. Cuma mengambil permen dan bengbeng kesukaannya.
Akupun pamitan. Beranjak dari peraduan. Karena sang singa merah, telah menunggu di bandara. "Bismillahi tawakkaltu alalloh."
Otw ke malang. Semoga perjalanan lancar. Aamiin.