Monday, August 29, 2016

"Masa depan adalah pilihan dan masa lalu adalah taqdir."

Ibarat masuk kuliah. Itulah masa depan. Di sana ada jurusan-jurusan yang akan menentukan seorang mahasiswa di masa depannya. Tinggal memilih dan memutuskan jurusan apa yang hendak diambil. Tak ada paksaan bagi kampus kepada mahasiswanya untuk memilih jurusan tertentu.

Meski pada akhirnya, kampus berhak menentukan untuk meluluskan atau tidak jurusan yang ia pilih. Ada yang gagal dan ada yang sukses hingga mengenakan toga. Ada yang sudah diterima tapi belum tentu finish di garis batas.

Masa depan, manusia sendirilah yang menentukan. Entah menjadi pejuang atau sebatas pecundang. Allah hanya memberikan pilihan-pilihan.

Jalan kesuksesan, manusia jua yang menentukan. Meski terkadang, ketentuan Yang Kuasa berbeda. Pilihan-Nya tentu lebih baik. Walau seseorang tak menyadarinya. Karena bertentangan engan keinginannya.

Itulah konsep masa depan. Apa yang dipilih hari ini, akan menentukan seperti apa kelak.
Maka bercita-citalah!! Selagi bercita-cita itu gratis. Jangan sebatas berangan-angan. Karena thuulul amal atau panjang angan-angan itu terlarang. Ia bukanlah ciri hebatnya seorang muslim. Ia hanyalah label bagi penyandang kemalasan.

Sementara al himmah atau cita-cita, adalah anjuran. Karena bercita-cita berbeda dengan berangan-angan. Bercita-cita ada proses berusaha untuk mencapainya. Dengan cara yang membuatnya sampai kepada apa yang diinginkannya.

Sedangkan berangan-angan, ibarat pungguk merindukan bulan. Menginginkan sesuatu yang tidak mungkin mencapainya.

Demikianlah konsep masa depan.

Sedangkan masa lalu adalah takdir.  Suatu ketetapan yang telah termaktub dalam lauhul mahfudz. Mozaik-mozaik yang telah tertata rapi di bawah kehendak-Nya.

Ya. Sesuatu yang telah terjadi itulah yang Allah takdirkan. Terkadang takdir selaras dengan yang kita inginkan. Namun terkadang juga sebaliknya. Dalam hal ini kita tidak boleh suudzon. Karena sebenarnya, Allah tengah memberikan sesuatu yang paling baik buat hamba-Nya. Dan juga tidak boleh berandai-andai karena akan membuka pintu syetan.

Contoh kecil saat berkendara. Terkadang sudah sangat hati-hati. Sudah layaknya siput. Yang tidak mau ngebut-ngebut karena takut jadi benjut. Eh ternyata malah ada motor ugal-ugalan yang nyerempet. Nah itu. Akhirnya ancur juga. Ini taqdir.

Tapi pada kesempatan lain, rasa gemetar pun sirna. Sambil ngelus dada mulut pun berucap, "Alhamdulillah gak jadi tabrakan." Refleks banting setir.

Itu artinya, jika memang pada saat itu takdir seseorang terkena musibah, maka itulah tinta Allah yang telah mengering. Namun jika takdirnya selamat, reflek pun muncul tanpa disengaja.

Maka hukum ahlu sunnah yang berlaku, "MAA AKHTHO'AKA LAM YAKUN LIYUSIIBAKA, WAMA ASHOOBAKA LAM YAKUN LIYUKHTHI'AKA." (Sesuatu yang sudah Alloh gariskan untuk tidak menimpamu pasti tidak akan terjadi. Dan sesuatu yang telah Alloh pastikan menimpamu pasti terjadi juga).

Sebuah larangan yang harus diperhatikan adalah berandai-andai. "Coba tadi saya tidak lewat sana, pasti gak begini jadinya." Karena hal itu akan membuka pintu syaitan. Atau lebih ngeri kalau ada yang nyeloteh, "Coba gak ada kamu, pasti saya sudah benjut." Itu adalah kalimat kesyirikan. Karena menafikan taqdir. Menghilangkan eksistensi Allah.

Sebuah kisah nyata, seorang anak yang hendak bepergian sengaja tidak dibangunkan oleh ibunya agar ketinggalan pesawat. Karena kondisi cuaca sedang tidak bersahabat. Dan ibunya sempat mendengar ada pesawat yang nyosor landasan. Lantaran gak bisa dikendalikan. Saat jadwal meluncur sudah lewat, ia pun dibangunkan. Dan ternyata anaknya kelolosan tidur. Nyawanya sudah telanjur diboyong malakul maut.

Inilah taqdir. Jikalau taqdir sudah menyapa, tak ada daya upaya yang bisa menempa.

Selamat menjemput taqdir Anda!!!

Coretan Dzaky . 2017 Copyright. All rights reserved. | Designed by Blogger Template