Riba Yang Diremehkan
Terlebih jika syarat menjadikannya mudah diloloskan. Oh.. aduhai indahnya. SK disekolahkan. Sertifikat rumah disekolahkan. Slip gaji digadaikan. Oh.. manisnya. Bahkan belum dilantik pun sudah dapat penawaran.
Alasannya simpel. Darurat!! Atao katanya yang makan riba kan pihak bank. Kl konsumen kan cuma korban. Hemmm... beralasan memang mudah.
Namun ada juga yang enggan berhubungan dengan bank. Namun bukan karena faktor riba. Tapi karena bunga yang mencekik. Jadi, kalau gak mencekik oke-oke saja. Pinjem di koperasi atou finance jadi gak terasa ribanya. Tentu alasan ini tidak membawa pahala. Karena bukan untuk ketaatan.
Yang kerja di bank... merasa hebat. Karena kerja yang mentereng. Dengan iming-iming gaji yang aduhai. Namun juga banyak dari mereka yang justeru malah tombok. Karena godaan kartu kredit yg memikat. Harta yang tidak berkah memang demikian. Banyak.. tapi tetep kurang.
Namun ada juga yg memilih mundur. Entah karena tidak nyaman atau karena sering tombok darr gaji pribadinya. Apalagi statusnya bukan pegawai tetap. Ia mundur bukan karena ribanya. Tapi karena tidak nyaman. Di hadapan Alloh tente berdeda. Karena amal tergantung niat.
Jadi ingat saat di pondok dulu. Ada dua santri yg bandelnya minta ampun. Susah diatur dan suka melanggar. Setelah ditelusuri, ternyata karena ortu kerja di bank. Akhirnya disarankan untuk keluar. Ia pun lebih memilih kebaikan untuk anaknya. Dan ma syaa Alloh, anak tersebut berubah total. Sekarang ia sudah menjadi dokter yang faham dengan dien tentunya. Alhamdulillah. Dan ayah santri yang satunya, yang enggan untuk meninggalkan kursi empuknya, tak terlihat efek baik pada anaknya. Dari hasil pendidikan di pondoknya. Akhlak dan penampilan masih seperti awam. Tidak bisa dibedakan.
Tapi intinya, semua kembali ke diri kita. Karena semua itu adalah pilihan.
Namun ada juga yang enggan berhubungan dengan bank. Namun bukan karena faktor riba. Tapi karena bunga yang mencekik. Jadi, kalau gak mencekik oke-oke saja. Pinjem di koperasi atou finance jadi gak terasa ribanya. Tentu alasan ini tidak membawa pahala. Karena bukan untuk ketaatan.
Yang kerja di bank... merasa hebat. Karena kerja yang mentereng. Dengan iming-iming gaji yang aduhai. Namun juga banyak dari mereka yang justeru malah tombok. Karena godaan kartu kredit yg memikat. Harta yang tidak berkah memang demikian. Banyak.. tapi tetep kurang.
Namun ada juga yg memilih mundur. Entah karena tidak nyaman atau karena sering tombok darr gaji pribadinya. Apalagi statusnya bukan pegawai tetap. Ia mundur bukan karena ribanya. Tapi karena tidak nyaman. Di hadapan Alloh tente berdeda. Karena amal tergantung niat.
Jadi ingat saat di pondok dulu. Ada dua santri yg bandelnya minta ampun. Susah diatur dan suka melanggar. Setelah ditelusuri, ternyata karena ortu kerja di bank. Akhirnya disarankan untuk keluar. Ia pun lebih memilih kebaikan untuk anaknya. Dan ma syaa Alloh, anak tersebut berubah total. Sekarang ia sudah menjadi dokter yang faham dengan dien tentunya. Alhamdulillah. Dan ayah santri yang satunya, yang enggan untuk meninggalkan kursi empuknya, tak terlihat efek baik pada anaknya. Dari hasil pendidikan di pondoknya. Akhlak dan penampilan masih seperti awam. Tidak bisa dibedakan.
Tapi intinya, semua kembali ke diri kita. Karena semua itu adalah pilihan.