Friday, April 29, 2016

Menyaksikan sang istri yang tengah terkulai, di atas dipan empuk sambil sesekali mengekspresikan rasa mualnya, seakan aku dibawa ke lorong waktu. Saat di mana ibuku, selama sembilan bulan mengandungku.
Sudah berjalan tiga bulan istriku mengandung. Ternyata di hamil yang ketiga ini, ia terlihat lebih lemah dibanding sebelumnya. Sebenarnya hanya satu masalahnya, ia tidak tahan mencium bau. Bau apa pun. Bahkan bau badanku dan juga si bidadari pertamaku.
Dapur, tempat mencuci piring dan toilet adalah tempat yang paling membuatnya alergi. Aroma khas udara bekas masakan, perabot kotor dan lubang saluran yang mengeluarkan aroma got, memaksa perutnya terasa diaduk-aduk. Endingnya, ia harus memuntahkan isi perutnya. Meski terkadang, hanya sebatas cairan pait yang keluar.
"Mas pernah mabuk pas naik bus gak?" Celotehnya lemas.
"Pernah." Jawabku singkat.
"Begitulah rasanya saya sekarang." Jelasnya. "Semoga saja ini hanya mimpi." Lanjutnya berharap.
Dan aku yakin, begitulah kondisi ibuku dulu. Sembilan bulan membawa janin seberat 3 kg kemana pun ia pergi. Saat berdiri maupun duduk. Dan tidur pun tak bisa tengkurap. Hampir semua posisi salah. Tidak ada yang membuatnya nyaman.
Ia dalam kondisi lemah. Dan terus bertambah lemah. Wahnan ala wahnin, kata Allah dalam ayat-Nya. Coba saja, para lelaki membawa beban seberat itu dalam kondisi menempel di perutnya. Selama 24 jam. Seperti apakah rasanya. Kalau hanya sebatas beberapa menit mungkin tidak terasa. Tapi kalau sampai berbulan-bulan?
Maka apatah kiranya seorang anak malah durhaka, padahal si perempuan juga akan merasakannya. Dan juga si lelaki akan menyaksikan istrinya. Pantas saja jika mengatakan "Uh" padanya sudah termasuk durhaka. Apalagi sampai membentak dan memukulnya. Atau malah menuntutnya masuk penjara.
Jelas saja Allah mengancamnya tidak masuk syurga, bahkan tidak mencium baunya. Bagi siapa saja yang durhaka pada kedua orang tuanya, al 'uququ waaliadaihi. Terlebih pada ibunya.
Dalam kondisi seperti itu, kesabaran ekstra harus tetap aku dekap. Karena sensitifitas terus mencuat. Dan perhatian padanya pun harus berkali kuadrat.
Wahai suami, janganlah mengeluh saat bersamanya. Karena bagaimana pun Anda juga yang menyebabkannya.
Semoga istri dan janin yang dikandungnya akan tetap baik-baik saja. Hingga saat ia tak betah lagi di perut ibunya. Karena ingin bersua di alam dunia. Bersama ibu bapaknya.
Semoga!!

Coretan Dzaky . 2017 Copyright. All rights reserved. | Designed by Blogger Template