Sunday, April 3, 2016


Saat perjalanan safari dakwah ke Lombok Utara, saya sempat mampir ke sebuah mushalla untuk shalat Ashar. Di sana saya berjumpa dengan lelaki setengah baya. Penjual balon boneka keliling. Yang hanya dengan berjalan kaki.

Kalau kita liat apa yang dijualnya, mungkin kita berfikir, ah berapa sih untungnya cuma jualan gitu aja. Hemm...

Tapi saya aprsesiasi dengan para pejuang hidup ini. Ia tidak memilih untuk meminta-minta. Dan lebih memilih lelah menyusuri perkampungan dan acara pesta demi mengais rupiah.

Saat aku mencoba bertanya, tuk sebatas tahu berapa hasilnya. Saya sungguh tercengang. Karena pendapatannya tentu jauh lebih banyak dibanding pegawai honorer. Atau bahkan bersaing dengan pegawai negeri.

Maka, nikmat Rabbmu yang manakah yang kamu dustakan?

Dalam kesempatan lain usai pulang dari sembalun. Kami mencoba melepas penat dengan bertandang ke salah satu penjual cilok. Masih muda. Ia merantau dari Jawa Timur.

Mungkin kita berfikir, jauh-jauh dari Jawa cuma jualan cilok. Tapi saya justru acungi jempol. Dibanding mereka yang lebih memilih nganggur, karena tak ada pekerjaan yang bikin tergiur. Atau mereka yang malu dengan titelnya yang mentereng jika bekerja tanpa koper yang ditenteng.

Bukankah  kata Rasulullah amalu rojulin biyadihi, itu yang diberkahi. Yang mengais rizki dengan membanting tulangnya. Hinga terik harus menyengatnya. Tanpa berfikir mobil mewah yang memfasilitasinya.

Sambil menikmati ciloknya, saya juga mencoba bertanya seberapa besar pendapatannya. Dan luar biasa, ternyata rata-rata omset perhari sampai 500rb dengan untung bersih skitar 200rb. Jika ia berjualan selama satu bulan full, berarti ia dapat 6jt/bulan. Hanya dengan jualan cilok.

Bandingan saja dengan para pelayan yang terkesan mentereng dengan seragam. Atau mereka yang gengsian. Karena tak bisa berpenampilan.

Maka, nikmat Rabbmu yang manakah yang kamu dustakan??!

Benarlah kata beliau jika 9 pintu rizki dari 10 pintu rizki ada pada perniagaan.

Untuk itu, kenapa kita masih terbelenggu dengan ijazah kontrakan. Yang didapat hanya dari ilmu copian. Yang giliran di lapangan, seperti bukan anak kuliahan.

Mari berniaga. Jangan hanya mencari pekerjaan. Karena mencari pekerjaan itu sulit.

Bagaimana nggak sulit, bayangkan saja, ribuan mahasiswa yang lulus dari perkuliahan, kemanakah mereka akan bekerja. Jika mereka hanya berfikir sama: mencari pekerjaan.

Sementara lapangan kerja, tak berbanding lulus dengan banyaknya mahasiswa yang diwisuda.
Seharusnya mereka berfikir menciptakan pekerjaan. Sehingga yang gak mampu makan 'bangku kampus', bisa dipekerjakan. Karena tentunya, mereka mumpuni untuk segalanya.

Ayo berniaga! yang bebas investasi riba. Agar berkah selalu menyapa. Ayo!!

"Berniagalah, sekalipun Anda telah Kaya." (Hasan Al-Banna)

oleh: faqih adz-dzaky

Coretan Dzaky . 2017 Copyright. All rights reserved. | Designed by Blogger Template