Hijaunya Rimput Tetangga
Seorang pebisnis tergiur dengan rumput tetangga yang lebih hijau.
Nengok kanan, "Enak sekali si fulan, jualan kelontong bisa sukses. Sekarang sudah punya puluhan minimarket."
Nengok kiri, "Enak sekali si fulanah, kerja cuma pencet-pencet Hp sudah bisa beli rumah."
Nengok kiri, "Enak sekali si fulanah, kerja cuma pencet-pencet Hp sudah bisa beli rumah."
Nengok ke atas, "Wah hebat si fulanudin, kerja cuma goyang-goyang kaki sudah bisa beli mobil."
Sobat, memang dalam berbisnis tidak boleh qona'ah. Qona'ah dalam arti hanya menerima tanpa usaha sekuat tenaga.
Kita harus tetap berusaha agar hari ini lebih baik dari kemarin. Agar tetap menjadi orang beruntung. Omzet meroket, sistem semakin mapan, team semakin solid, dan seterusnya.
Kita harus tetap berusaha agar hari ini lebih baik dari kemarin. Agar tetap menjadi orang beruntung. Omzet meroket, sistem semakin mapan, team semakin solid, dan seterusnya.
Kita harus tetap melaju dalam kompetisi. Bersama rekan seperjuangan ataupun yang berlainan. Berusaha saling mengungguli.
Namun bukan berarti, hal itu menjadikan oleng. Hilang keseimbangan karena mudah tergiur dengan bisnis orang. Sehingga lupa dengan bisnis yang tengah digelutinya.
Jangankan sistem yang mapan, team saja belum punya. Dan grafik omzet masih belum stabil.
Seharusnya, meski tengah berkompetisi, tapi tangan tetap kokos memegng kendali. Dan fikiran tetap fokus mengejar target yang telah disepakati. Bukan malah tengok kanan-kiri.
Ingat, rizki tak akan pernah tertukar. Meski teman sukses di ranah itu, belum tentu kita bisa seperti dirinya. Karena bisa jadi, ia bukan ranah penjemputan rizki kita.
Kita bisa saja meniru bisnisnya. Tapi belum tentu bisa meniru hasilnya.
Kita bisa saja meniru bisnisnya. Tapi belum tentu bisa meniru hasilnya.
Jadi, tetap fokus dan jangan mudah tergiur rumput tetangga. Meski terlihat lebih hijau dan menyejukkan mata.
Dan tentu menggiurkan.
Dan tentu menggiurkan.
