Wednesday, May 11, 2016

Seonggok siang di hari selasa. Sebuah rencana yang telah tersusun membekas kuat dalam benak. Menuntun setiap gerak mengikuti pola yang telah direncanakan. Dan rencana yang sudah final itu adalah saya akan mentransfer uang arisan denga setor tunai melalui teller.
Alasannya simpel saja. Karena uang yang harus disetor tercecer di beberapa rekening. Itu saja. Jadi bukan karena ingin bertemu dengan mereka yang biasanya suka berdandan seksi. Bahkan terkadang menor. Yang kalau berbicara diatur sedemikian rupa karena tak mau kena denda.
Bukan. Sekali lagi bukan. Dan ternyata, taqdir berkata sesuai rencana. Proposal planing yang sudah disusun langsung di-ACC. Bahwa uang setoran harus diserahkan langsung ke teller. Jadi apalah daya.
Padahal di pojok atm itu. Saat saya berdiri mengantri. Tiba-tiba masuk uang senilai lebih dari jumlah yang harus disetor. Tapi ya itu. Proposal terlanjur terstempel. Jadi ingatan pun tiba-tiba lenyap. Sejenak amnesia. Uang di rekening yang seharusnya tinggal ditransfer ke rekening tujuan malah dikeluarkan. Semuanya.
Dan anehnya. Saat lembaran biru itu sudah masuk ke dompet semuanya. Tiba-tiba amnesia saya lari tanpa pamit. Menghilang begitu saja.
"Kenapa tadi nggak langsung ditransfer." Saya mencoba membatin. "Ah ini sih namanya mau ngerjain diri." Aku kembali membatin sambil memasukkan kunci motor ke lubangnya. Siap menuju bank yang tertera dalam proposal.
Dan ternyata. Apa yang mencuat dalam batin saya terkabulkan. "Ngerjain diri".
Bayangkan saja. Setelah saya ngantri lama di ruang tunggu. Sambil duduk manyun di atas sofa biru. Ternyata speaker yang biasa memanggil penunggu tetap membisu. Dan ia terdiam tepat satu nomor sebelum nomor yang tertera dalam lembar putih antrian itu.
Bayangkan saja. Setelah saya mencoba bertanya ke lelaki tegap berkostum putih biru, ia sambil tersenyum menjelaskan bahwa server lagi gangguan. Saya pun kembali membatin. "Benar sekali. Ternyata saya lagi mengerjain diri."
Keesoskan harinya, saya kembali menyapa lelaki yang berkostum putih biru. Masih seperti biasa, ia tetap saja berdiri di dekat pintu. Menyapa setiap tamu. Dengan cara yang sama seperti itu.
Setelah selembar kertas putih saya pegang. Ternyata nomor yang tertera begitu fantastis. Lebih dari 30 orang harus saya tungu. Agar mendapat giliran.
Dan yang kurang beruntungnya lagi, nomor yang sejak tadi digadang-gadang keluar malah terlihat malas. Tetap itu itu saja. Dan giliran keluar, malah terlewat dari pendengaran sehingga satu nomor setah saya harus sumpringah mendapat giliran.
Saat itu saya sedang asyik chating dengan istri saya. Yang katanya, "kesalahannya hanya satu, lupa transfer pakai atm." Ya itulah manusia. Tempatnya salah dan lupa.
Satu lagi yang harus dibayangkan. Usai transaksi dengan penjaga teller yang sempat menawari saya permen, dengan senyum ramahnya yang juga terkesan dipaksakan. Saya melihat pintu kaca dari kejauhan. "Hemmm...hujan lebat ternyata." Saya kembali membatin.
Dan saat itu saya tidak membawa jaz hujan jadi penantian kembali jadi jurus andalan. Ya. Menunggu hujan reda. Benar-benar takdir yang tidak bisa dielakkan.
Itulah taqdir. Seperti kata para ulama, "maa akhtho'aka lam yakun liyushiibaka. Wa maa ashoobaka lam yakun liyukhthia'aka." Sesuatu yang sudah distempel untuk tidak menimpa kita, pasti akan hengkang juga. Tapi jika taqdir telah berkata bahwa hal iti menimpa kita, pasti akan sampi juga.
Uang yang seharusnya tinggal saya transfer via atm ternyata luput juga. Dan ketika hal itu menimpa, jangan sampai berandai-andai. "Seandainya waktu itu saya nggak lupa. pasti saya tidak akan mendapatakan kesialan ini." Karena hal iti akan membuka pinti syaithon. Afar kita kufur terhadap taqdir dari Yang Kuasa.
Jadi intinya, syukuri saja. Karena kata Rasulullah, seorang muslim itu luar biasa. Yakni, ketika mendapat musibah ia bersabar dan ketika mendapat nikmat ia bersyukur. Karena keduanya paati baik bagi dirinya.
Selamat mensyukuri nikmat dan bersabar atas segala yang tidak diharap.

Coretan Dzaky . 2017 Copyright. All rights reserved. | Designed by Blogger Template