Wednesday, May 4, 2016

Dhuha di komplekku tetap seperti biasanya. Tak ada perbedaan. Hanya cuaca yang kadang membuat warna. Antara mendung dan cerah. Atau bahkan membuat badan seakan lelah. Karena gerimis yang terus membuncah. 

Yang membuat biasa bukan anak pertamaku yang belum genap empat tahun susah beranjak dari bantal empuknya. Atau anak ayam warna warni yang suka masuk rumah tanpa permisi. Lantas menyemburkan setitik hitam berbau tajam dari duburnya. Atau juga rumput-rumput hijau yang baru saja disiangi sudah menyembul lagi. Bukan. Bukan itu. Tapi Bibi penjual sayur yang yang membuat saya merasa biasa.

Biasa karena berbagai arah mereka akan bermunculan. Dengan nada khas yang bersahutan. Yang menggunakan motor matic paling sebatas klakson. Sambil bertetiak, "Sayuuuurrrr...!" Meski yang dijual lebih dari sekedar sayur. 

Ada juga yang berjalan kaki. Ini yang banyak diminati. Ya. Sebenarnya bukan karena diminati. Tapi karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk memiliki. Sebuah kendaraan pribadi yang bisa dinaiki.
"Sayur Buu...Sayur..." dari sebarang rumah ia biasa mulai kelihatan. Jika hari libur si anak lelaki yang masih usia SD biasanya membantu membawakan beberapa bebannya. Jika waktu sekolah, ia biasa berjalan sendiri. Bibi yang satu ini barang jualnnya biasanya lebih lengkap. Ia masuk dalam daftar prioritas saat hendak membeli sayur.

Biasanya langsung diambut ibu-ibu yang masih muda. Berjalan dengan setumpuk barang jualan di aras kepalanya. Sambil menggendong anak bayi serta menunntun balitanya. Yang baru menginjak umur 3 tahun dua bulan. Begitu terangnya saat kutanya berapa usianya. 

"Saayuurr iiikaaannnn....!" Suaea khasnya yang terdengar mengiba membuatku dilema. Ya. Seperti kejadian pagi ini. Bagaimana tidak. Ia hanya hidup dengan kedua anaknya itu. Di sebuah rumah yang dipinjamkan kepadanya. Baru beberapa bulan ia dicerai. Dan kedua anaknya tak lagi dinafkahi.
Ia bukanlah masuk daftar prioritas. Karena barang dagangannya yang terbatas. Ya terbatas. Tapi hati kecilku tetap merasa iba. Karena satu barang yang aku beli, berarti ada dua anak balita yang bisa menyambung hidupnya. 

Ah biarlah. Berbelanja bukan hanya sebatas memenuhi ego dan kebutuhan saja. Tapi juga harus bisa memilih siapa yang lebih membutuhkannya. Dan kata "menawar", itu kara keramat yang sudah kuharamkan jika bertemu dengan mereka. Apatah kita hendak menawar, padahal saat berbelanja di minimarket milik saudagar saja tidak pernah menawar. 

Dan biasanya, beberapa menit kemudian akan menyusul lagi bibi penjual sayur. Dengan nada khas pula.
"Sayur ikan... Bunda cantiiik. Bunda sayur..." 

Ia juga bukan masuk daftar prioritas. Karena barang yang ia bawa juga terbatas. 

Pemandangan itu akan sirna saat terik mulai menyapa. Dan sang mentari mencoba menampakan kesombongannya. 

Dan akupun mulai sadar. Bahwa sekarang bukan lagi waktu dhuha. Karena sebentar lagi matahari istiwa. Tepat di atas pusara.

Coretan Dzaky . 2017 Copyright. All rights reserved. | Designed by Blogger Template