Mantan Seorang Pemborong
Sebelum kumpul bareng anak2 SMA di sebuah tongkrongan, saya sempat membeli cilok. Ya. Cilok.
Dari logat, yah sepertinya sejawat nih: ngapak. Setelah saya tanya, orang Gombong katanya. Tapi saya lupa, gombong itu mana yah??
Heheh.
Yang pasti masih serumpun lah, saya Tegal. Meski lidah ngapak saya sudah ilang. Sudah 13 tahun sudah nggak hidup di tanah kelahiran lagi.
Ah, bukan itu yang mau saya bahas. Saya cuma mau cerita tentang dunia percilokannya. Biasa, saya paling seneng investigasi para kaki lima. Kalau kaki dua kurang menantang soalnya.
Hihi.
Intinya, rata-rata perhari omzet sekitar 500 ribu. Dengan untung bersih sekitar 180 ribu. Lumayan gak? Cuma jualan cilok loh.
Kalau weekend jam lima sudah habis. Kalau hari biasa harus pindah tempat buat habisin stok.
Cukup?
Nggak. Bukan itu intinya. Tapi ternyata, dulu ia seorang milyader. Ya. Milyader. Seorang pemborong besar yang memiliki sebuah PT. Biasanya mborong CCTV. Salah satu kliennya adalah BI seluruh Indonesia.
"Dulu memang cuma pegawai biasa mas. Tapi lama-lama jadi pemborong juga. Punya PT sendiri." Jelasnya dengan logat ngapak yang khas.
Kok sekarang jualan cilok?? Bangkrutkah??
Nggak. Ternyata bukan bangkrut. Tapi sengaja ditinggalkan. Satu hal yang membuat hati kecilnya tidak menerima: DUNIA SUAP.
Ya. Dunia proyek memang gak lekang dari istilah tersebut. Buat dapetin tender. Betul??
"Bos saya yang dulu masih dipenjara sampai sekarang. 2 M dia suap. Saya takut mati saja." Katanya.
Banyak dia bercerita. Sampai sang istri minta cerai gara-gara ia jatuh miskin karena ninggalin bisnisnya.
Hemm. Kasihan juga.
Yang namanya bisnis memang bukan sebatas untung belaka. Tapi halal haram lebih utama.
Bener gak??
Yang merasa terinspirasi, #like dan #share yah.
